API. Ilustrasi bara api
----------

MAGELANG - Orangnya buta. Jalannya jauh. Berbatu, berlubang, tidak rata. Tapi ia tetap ingin sampai masjid. Itu kisah Abdullah bin Ummi Maktum. Sahabat Nabi.

Sampai suatu ketika ia bertanya:

“Apa boleh kalau saya tidak ke masjid? Saya buta. Jalan juga sulit.”

Jawaban Nabi tegas:

“Kamu dengar adzan tidak? Kalau dengar, wajib ke masjid.”

Jawaban itulah yang dipakai Ustadz H Mahmud Hasan sebagai prolog tausiah Ahad Bakda Subuh di Masjid Muhajirin, Kramat Utara, Kota Magelang, 25 September 2022.

Pesannya sederhana:

Kalau tahu besarnya pahala jamaah, orang akan tetap datang. Bahkan kalau pun harus merangkak.

Jamaah pagi itu bukan hanya dari Kramat Utara. Ada dari Perum Armada Estate, Dalangan, bahkan Jambewangi Secang pun ikut.

“Allah ridha kepada orang-orang yang taat,” kata sang ustadz.

Beliau memberi perumpamaan sederhana. Kalau punya karyawan yang taat aturan, kita pasti sayang.

Begitu pula Allah: ridha kepada hamba yang patuh. Tapi iman itu naik-turun. Bisa bertambah, bisa berkurang. Dan zaman sekarang, kata beliau, “beriman seperti memegang bara api.”

Berat. Karena godaan ada di mana-mana. Caranya agar tetap kuat? Ilmu. Tambah ilmu, tambah iman.

Ustadz Mahmud pun mengingatkan kembali soal rukun iman. Tentang malaikat, hari akhir, qadha dan qadar. Tentang alam kubur. Tentang syariat hidup.

Salat, misalnya. Bagi orang beriman, salat bukan kewajiban yang memberatkan. Tapi istirahat.

“Istirahatlah kamu dengan salat,” begitu kata beliau.

Salat yang tumakninah, salat yang nikmat. Ditambah wirid. Tasbih, tahmid, takbir. Ditutup dengan la ilaha illallah.

Jangan lupa Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat Kursi.

“Ayat Kursi itu jaminan surga,” ucapnya.

Orang beriman pun tidak boleh pelit.

“Takutlah kepada neraka walau hanya dengan memberi sebiji kurma,” pesan beliau.

Dan ya, orang bertakwa tetap bisa berdosa. Bedanya, begitu jatuh dalam dosa, mereka cepat sadar. Cepat kembali.

Karena tujuan akhirnya jelas: surga. Kalau targetnya rendah, amal pun seadanya.

Kalau targetnya tinggi—surga Allah—amalnya lebih sungguh-sungguh.

Seusai pengajian, jamaah menunaikan salat syuruq lalu sarapan soto kudus bersama. Hangat. Selembut obrolan pagi, selepas berbicara tentang “bara api” bernama iman.

Pagi yang dingin di Magelang itu mengajarkan: kebersamaan, ilmu, dan iman membuat hati hangat. Sama hangatnya dengan secangkir minuman tradisional nusantara, Wedang Kraton—teman setia silaturahmi. (wedangkraton)