----------
MAGELANG - Dosa kecil itu tetap dosa. Banyak orang menganggap remeh. Alasannya sederhana: kecil.
Padahal kecil itu bisa menjadi besar. Sama seperti tetesan air di batu. Tidak sekali dua kali. Tapi kalau setiap hari. Kalau terus-menerus. Batu pun akhirnya berlubang.
Begitulah dosa kecil.
Jumat malam, 24 Februari 2023, Masjid Al Kautsar di Blok C Perum Depkes, Kramat Utara, Magelang Utara, penuh jamaah. Di sana Kiai Ridwan menyampaikan pengajian selepas Magrib.
Pesannya sederhana, tapi mengena: jangan pernah menyepelekan dosa kecil.
Karena manusia punya kecenderungan itu. Sering meremehkan. Sering berkata: ah, cuma ini. Ah, kecil saja. Tapi justru yang kecil-kecil itu yang menumpuk.
Manusia memang wajar punya hawa nafsu. Tanpa nafsu, manusia bukan manusia. Tetapi nafsu yang dibiarkan liar bisa menyeret jauh. Bisa membutakan.
Manusia hidup di tengah-tengah. Antara iman yang mengajak ke jalan lurus, dan nafsu yang menyeret pada kesesatan.
Godaan sering datang dari niat. Baru terlintas di hati, itu masih bisa diampuni. Tapi ketika niat berubah jadi tindakan, bahaya besar sudah terjadi.
Maka, kata Kiai Ridwan, satu-satunya jalan adalah istighfar. Jangan berhenti meminta ampun.
Taubat pun harus dilakukan. Bukan sekadar ucapan. Ada syaratnya: penyesalan sungguh-sungguh, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi lagi.
Kalau dua syarat itu terpenuhi, sekecil apa pun dosa, Allah bisa mengampuni.
Setelah itu, Kiai Ridwan mengajak jamaah merenungkan makrifat. Orang yang makrifat tidak lagi memandang dunia dengan cara biasa. Emas sama dengan batu. Uang hanyalah kertas. Harta sekadar alat. Dunia tidak lagi menggoda.
Orang zuhud hidup seperlunya. Tidak berlebihan pada harta, tidak berlebihan pada kedudukan.
Ibadah pun murni. Bukan karena ingin surga. Bukan karena takut neraka. Tetapi karena Allah memerintahkan.
Hidup sederhana seperti itu justru membuat hati lapang. Tidak iri. Tidak sibuk membandingkan. Tidak merasa kurang.
Tapi ada penyakit hati yang jauh lebih berbahaya. Prasangka buruk.
Orang yang merasa punya banyak musuh sebenarnya hatinya penuh prasangka. Orang yang merasa paling benar sebenarnya sedang sakit hati. Orang yang suka meremehkan orang lain sebenarnya hatinya kotor.
Padahal dalam ibadah tidak ada alasan untuk bermusuhan. Yang ada hanyalah siapa lebih dekat kepada Allah.
Itu pun, sejatinya, urusan pribadi. Antara hamba dan Tuhannya.
Bukan untuk dipamerkan. Bukan untuk dibanding-bandingkan.
Malam itu, pesan Kiai Ridwan tidak panjang. Tapi dalam. Dan menyisakan banyak renungan. (wedangkraton)