USTADZ. Penceramah Ustadz H Solihin 
----------

MAGELANG - Manusia itu memang gampang sambat. Dikasih cobaan, sambat. Dikasih nikmat, juga sambat. 

Kadang ketemu orang, yang keluar dari mulutnya bukan cerita syukur, tapi daftar panjang keluh kesah.

Seperti kata Ustadz H Solihin dalam pengajian bakda Magrib sampai Isya, Jumat malam 20 Oktober 2023, di Masjid Al Kautsar Blok C, Perum Depkes, Magelang Utara, Kota Magelang.

"Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan keluh kesah.”

Padahal, ciri orang yang tenang justru sebaliknya.

Yang pertama, orang yang tetap shalat dalam keadaan apa pun. Sakit, sehat, lapang, sempit. Shalat tidak ikut-ikutan suasana hati.

Yang kedua, orang yang menyiapkan hartanya untuk berbagi. Rezeki datang, langsung berpikir: ini untuk keluarga, ini untuk saudara, ini untuk sosial. Entah ada yang meminta atau tidak, ia sudah punya niat untuk memberi.

Yang ketiga, orang yang percaya pada hari akhir. Setiap amal ada balasan.

Yang keempat, orang yang tidak merasa aman dari azab Allah. Hidup bisa berubah kapan saja, bencana bisa datang dari arah yang tidak kita sangka.

Yang kelima, orang yang menjaga kemaluannya.

Yang keenam, orang yang menepati amanah dan janji.

Yang ketujuh, orang yang teguh pada kesaksiannya.

Tujuh ciri ini, menurut beliau, membuat seseorang tidak larut dalam keluh kesah.

Tapi ternyata bukan hanya keluh kesah yang jadi masalah. Ada satu lawan abadi: setan.

Setan, kata Ustadz Solihin, diciptakan dalam keadaan jelek. Pernah di surga, tapi diusir karena mbalelo—tidak mau sujud pada Adam.

Sejak itu, setan ditangguhkan sampai hari akhir. Tugasnya hanya satu: mencari “bolo”. Keturunan Adam. Untuk dibelokkan, dibikin keblinger, dijauhkan dari jalan Allah.

Caranya halus. Masuk dari segala arah.

Dari depan—menggoda dengan penundaan. “Mau shalat? Nanti saja, enggak apa-apa.”

Dari belakang—membuat remeh yang sudah dilakukan. 

Dari kanan—membisikkan kesombongan. “Amalmu bagus, pahalanya besar, hebat kamu.”

Dari kiri—menjerumuskan pada dosa. Kecil dulu, lalu terbiasa, akhirnya besar.

Hanya atas dan bawah yang tidak disebut. Karena itu wilayah sujud. Selama manusia sujud dengan khusyuk, setan tidak bisa masuk.

Di titik ini, shalat bukan sekadar ritual. Tapi benteng.

Maka tidak heran, kata beliau, shalat pun bisa dibidik setan. Kalau tidak hati-hati, shalat hanya jadi gerakan fisik, tanpa rasa. Tidak ada khusyuk, tidak ada getaran.

Itulah mengapa sutrah—batas shalat—perlu. Ada pagar konsentrasi. Ada garis yang membuat kita fokus pada Allah, bukan pada gangguan sekitar.

Ustadz Solihin menutup dengan pengingat sederhana: setan baru bisa masuk kalau manusia lepas dari Allah.

Selama kita dekat dengan-Nya, setan menjauh. Tapi begitu longgar, begitu lengah, setan tidak pernah kehilangan cara untuk masuk.

Di luar masjid, godaan itu bentuknya lebih modern.

Kadang berupa cicilan paylater yang terlihat ringan di depan, tapi berat di belakang.

Kadang berupa pencapaian yang membuat kita bangga di kanan, lalu lupa bahwa itu hanya titipan.

Kadang berupa kesalahan kecil di kiri, yang kita anggap sepele, lalu berubah jadi kebiasaan.

Sementara keluh kesah? Itu sudah jadi bahasa sehari-hari. Di warung kopi, di grup WhatsApp, bahkan di status media sosial.

Padahal, kata Ustadz Solihin, orang yang tenang itu bukan yang bebas masalah. Tapi yang tetap ingat Allah, apa pun masalahnya.

Mungkin kita perlu belajar berhenti sambat. Bukan karena hidup ini tanpa beban. Tapi karena setan memang paling mudah masuk lewat pintu itu: pintu keluh kesah. (wedangkraton)