----------
MAGELANG - Syawal sering dianggap akhir. Akhir dari puasa. Akhir dari tarawih. Akhir dari malam-malam panjang Ramadhan.
Banyak yang mengendur setelahnya. Kembali pada kebiasaan lama. Tidur lebih cepat, makan lebih banyak, doa lebih jarang.
Tapi di Secang, Magelang, Ahad siang 27 April 2025, jelang Zuhur, suara berbeda terdengar.
Di rumah mbak Sugi, jamaah berkumpul dalam suasana halal bi halal dan mujahadah. Mereka duduk lesehan, bercengkerama sebentar, lalu menyimak tausiah dari Ust. Miftah Khusurur, S.Ag, guru Pendidikan Agama Islam di SMK Yudya Karya Magelang.
Beliau membuka dengan sebuah pemahaman: Syawal bukan penutup. Syawal adalah awal.
Bulan ini disebut itidakil khair—bulan untuk memulai kebaikan.
Ada juga yang menyebutnya syahrul makramin—bulan istimewa. Sama istimewanya dengan Rajab, Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
Namun yang paling penting dari Syawal bukan sekadar namanya. Melainkan maknanya: peningkatan
Ramadhan adalah kawah candradimuka. Sebulan penuh orang Islam digodhok. Lapar, haus, sabar, shalat, dzikir. Semuanya latihan.
“Harapannya, setelah Ramadhan, iman meningkat,” ujar Ust. Miftah.
Yang kemarin jauh dari Allah, sekarang dekat. Yang sebelumnya longgar, kini lebih rapat.
Syawal adalah bulan naik kelas.
Sama seperti siswa setelah ujian. Kalau Ramadhan hanya ditutup dengan kembali pada kebiasaan lama, berarti tidak lulus. Sia-sialah latihan sebulan penuh.
Maka Syawal justru menjadi titik uji. Apakah benar naik kelas, atau tetap tinggal kelas.
Dan peningkatan itu tidak hanya soal ibadah formal. Tidak berhenti pada shalat, puasa, atau dzikir.
Lebih jauh: peningkatan hati. Apakah lebih lembut. Lebih sabar. Lebih mudah memaafkan.
Juga peningkatan sosial. Apakah lebih peka terhadap sekitar. Lebih ringan tangan memberi. Lebih peduli pada sesama.
Halal bi halal sendiri sejatinya adalah momentum sosial. Merawat silaturahmi. Menata hati. Menghapus prasangka. Itulah latihan lanjutan setelah Ramadhan.
Siang itu, menjelang Zuhur, suasana terasa teduh. Jamaah larut dalam mujahadah. Doa mengalir. Di sela-sela dzikir, pesan sederhana Ust. Miftah menggema:
Syawal bukan bulan kendor. Syawal bukan bulan selesai.
Syawal adalah tanjakan baru. (wedangkraton)