Di Masjid Muhajirin, kegiatan jelang hari raya Idul Adha bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ia adalah rangkaian cerita yang disulam dengan niat baik, kepedulian, dan rasa syukur. Termasuk dari sisi persiapannya yang paling sederhana, seperti membeli besek.
BACA JUGA: Sekilas Wedang Kraton
Rabu siang itu, 3 Juni 2025, langit Magelang sedikit teduh.
Di lantai dasar Pasar Rejowingan, suara riuh para pedagang terdengar samar.
Di salah satu sudut pasar, Pak Miftah Khusurur, anggota panitia kurban Masjid Muhajirin, tengah menawar tumpukan besek anyaman.
Tangannya sesekali mengelus permukaan bambu yang halus namun kuat.
Itu seakan sedang meraba kerja keras para perajin yang membentuknya.
“Hampir 40 tangkep ini kita ambil. InsyaAllah cukup untuk wadah daging kurban,” ucapnya sembari tersenyum.
Ia tidak sendiri. Bersama Salman, sesama panitia. Ia datang dengan sepeda motor.
Beban di jok belakang mereka bukan hanya besek. Tetapi juga harapan untuk membungkus daging kurban dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Pak Miftah, pilihan menggunakan besek bukan sekadar soal praktis.
“Selain ramah lingkungan, kami ingin membantu para perajin besek supaya hasil kerajinan tangannya laku. Pedagang besek pun juga mendapat untung," ujarnya pelan.
Kalimat itu sederhana, tapi mengandung makna dalam.
Di balik satu besek, ada tangan-tangan yang bekerja dengan sabar.
Ada keluarga yang menanti penghasilan.
Ada warisan kerajinan yang tetap hidup di tengah gempuran plastik sekali pakai.
Takmir Masjid Muhajirin sudah menentuka tempat pelaksanaan salat Idul Adha. Dilaksanakan di Lapangan Tenis Armada Estate pada Jumat pagi, 6 Juni 2025.
Lalu, pada Sabtu, halaman masjid akan dipenuhi suara takbir dan riuh penyembelihan 5 ekor sapi serta 8 ekor kambing.
Ketua Takmir Masjid Muhajirin, Pak Aris Nugroho, punya alasan mengapa penyembelihan dilakukan sehari setelah salat Id.
"Kalau hari Jumat, masjid dipakai untuk salat Jumat. Nanti malah repot,” jelasnya.
Meski terdengar sederhana, keputusan ini adalah bentuk perencanaan yang matang agar semua kegiatan berjalan tertib.
Namun, di balik semua itu, ada benang merah yang menyatukan: kepedulian.
Besek-besek bambu yang akan membungkus daging kurban itu seolah menjadi simbol—bahwa ibadah ini tidak berhenti pada proses menyembelih.
Tetapi, juga mengajak untuk memikirkan dampaknya bagi lingkungan, bagi perajin kecil, dan bagi sesama.
Ketika hari Sabtu tiba, halaman Masjid Muhajirin akan menjadi saksi.
Daging-daging segar akan dibagi, tangan-tangan akan bekerja sama, dan senyum akan terukir di wajah mereka yang menerima.
Besek-besek itu, meski sederhana, akan membawa pesan: bahwa di balik setiap pemberian, ada cinta, kepedulian, dan doa.
Idul Adha di Masjid Muhajirin tahun ini bukan hanya perayaan ibadah.
Tapi, juga pengingat—bahwa kebaikan bisa dibungkus dalam anyaman bambu, lalu diantar dengan hati yang tulus.
Dan mungkin, justru dari hal-hal kecil seperti inilah, kita belajar arti pengorbanan yang sesungguhnya. (wedangkraton)