CERAMAH. Gus Baha dalam suatu ceramah.
----------

MAGELANG - Dakwah sering kali tampil kaku. Penuh peringatan. Kadang juga menakutkan.

Tapi Gus Baha berbeda.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim itu datang dengan wajah ceria. Tuturnya jenaka. Pengajiannya selalu ditunggu. Dan ada rahasia di balik itu.

Keceriaan, kata Gus Baha, adalah strategi.

“Kenapa banyak kiai yang ceria? Karena satu-satunya cara kita menandingi hegemoni maksiat adalah pembawa taat itu ceria. Sebab orang itu mesti mencari kebahagiaan,” ujarnya dalam sebuah pengajian yang viral dilansir dari YouTube.

Agama Itu Ringan

Bagi Gus Baha, agama bukan deretan beban. Islam datang dengan kabar gembira. Bukan dengan wajah muram.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Man qola laa ilaaha illallah dakhala al-jannah.”

Siapa pun yang mengucapkan kalimat tauhid, masuk surga.

“Kalau syaratnya panjang dan rumit, yang masuk surga sedikit. Nabi itu mempermudah, supaya umat merasa senang menjalankan agama,” jelasnya.

Pesan itu sederhana.

Rahmat Allah jauh lebih luas dari dosa manusia.

Jangan sampai takut berlebihan membuat orang menjauh dari Allah.

Sujud Itu Sudah Nikmat

Abu Hasan Asy-Syadzili pernah berkata: bisa sujud saja sudah nikmat besar.

Gus Baha mengutip itu.

“Cukup keren kalau kita pernah ditakdirkan sujud kepada Allah. Malu kalau nanti di akhirat bertemu Allah tapi selama hidup di dunia tidak pernah sujud,” katanya.

Betapa ringan cara pandangnya.
Agama, bagi Gus Baha, tidak membuat murung.

Tapi membuat orang bersyukur.

Tauhid Jadi Pondasi

Tauhid adalah fondasi. Allah yang memberi tertawa dan menangis. Allah yang memberi hidayah. Allah pula yang membagi rezeki.

Dengan keyakinan itu, masa depan agama tidak perlu dirisaukan.

“Agama ini akan terus berjalan sampai hari kiamat,” tegasnya.

Ceria Jadi Dakwah

Ceria itu bukan gaya. Ceria adalah strategi.

Masyarakat mencari hiburan. Banyak yang larut dalam maksiat.

Gus Baha menghadirkan hiburan dalam ketaatan. Karena itu, dakwahnya terasa ramah.

Tidak menekan.

Tidak menghakimi.

Justru mengundang senyum.

Dan mungkin di situlah rahasia mengapa pengajian Gus Baha selalu ditunggu. 

Bukan hanya karena ilmunya luas. Tapi karena ia mengajarkan bahwa menjadi muslim itu adalah kebahagiaan, bukan beban.
(wedangkraton)