MAGELANG - Angin malam Kota Magelang, Jawa Tengah berhembus lembut namun cukup menusuk tulang.
Di bawah langit mendung, ratusan jamaah melangkah mantap menuju Majelis Ma'rifatullah, Perum Depkes, Kramat Utara, Magelang Utara, Jumat malam, 15 Agustus 2025.
BACA JUGA: Sekilas Wedang Kraton
Tepat pukul 20.00 - an WIB, ustadz muda Riyadh Ahmad naik ke panggung. Berpeci hitam dan berjas rapi, ia melanjutkan pembahasan Asmaul Husna yang sudah dibuka pada Jumat Wage lalu.
Fokusnya malam itu adalah Al-Adzim—Yang Maha Agung. Diantara yang dituturkan soal Nabi Musa yang hendak melihat dzatnya Allah.
“Manusia ini sangat terbatas kemampuannya. Dalam hal apapun. Contoh yang kecil saja, kita tidak bisa memandang apa yang ada di balik tembok. Maka tentang keberadaan atau dzatnya Allah, maka kita yakini saja,” katanya di menit-menit sepuluh awal membuka materi.
Ia mengisahkan kembali peristiwa yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 143, saat Nabi Musa memohon untuk melihat Allah secara langsung.
“Nabi Musa ingin melihat Allah secara langsung, ternyata tidak bisa,” ujarnya.
PENGAJIAN. Jamaah pengajian mendengar dengan seksama isi ceramah.Lalu ia membacakan jawaban Allah kepada Musa:
"Hai Musa kamu tidak akan dapat melihat-Ku. Melihatlah ke bukit. Jika bukit itu tetap kokoh… tetapi jika bukit itu hancur setelah melihat-Ku, bagaimana pula kamu dapat melihat-Ku.”
Bukit yang dimaksud adalah Gunung Sinai, tempat Nabi Musa menerima wahyu.
“Gunung hancur saat cahaya keagungan-Nya tampak, dan Nabi Musa pun pingsan,” jelasnya.
Untuk memudahkan pemahaman, Ustadz Riyadh memberi analogi sederhana.
“Sorot laser yang kuat, kalau diarahkan ke kertas, kertasnya bisa terbakar. Kita saja kalau disorot laser, mata kita tidak akan sanggup menahannya. Nah itu gunung hancur karena cahaya keagungan-Nya. Desain mata ini terbatas. Kowe ora mampu melihat-Nya. Memang ora didesain untuk itu. Ketika Nabi Musa sadar, maka Nabi Musa taubat.”
Di sela pengajian, kotak infak berkeliling. Malam itu, terkumpul sekitar Rp700 ribuan.
Pengajian itu juga ada snacknya. Begitu datang, jamaah bisa mengambilnya. Termasuk meneguk teh hangat atau air mineral yang tersedia.
Malam itu, dinginnya udara Magelang kalah oleh hangatnya iman dan ilmu.
Dari kisah Nabi Musa, jamaah pulang membawa pelajaran bahwa dzat Allah tak akan mampu ditatap mata. Namun, manusia dapat melihat ciptaan-Nya: bumi langit seisinya. (wedangkraton)