Di sini, kehilangan bukan berarti merugi. Bahkan, kehilangan justru bisa menjadi titik awal merasakan hangatnya kepedulian.
Sandal, Sepeda, Hingga Motor — Semua Diganti Baru
Ustadz Muhammad Jazir ASP, Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, pernah berkata dalam sebuah acara televisi.
“Jika Anda kehilangan sandal, sepatu, sepeda, bahkan sepeda motor di masjid ini, akan kami ganti baru, merek sama, warna sama. Takmir bertanggung jawab.”
Bagi sebagian orang, sandal jepit mungkin sepele. Harganya tak sampai belasan ribu. Tapi di sini, setiap barang jamaah dihargai—karena di balik setiap barang ada rasa aman yang harus dijaga.
Dan bukan hanya sandal atau sepatu. Jika yang hilang adalah sepeda atau motor, takmir akan menggantinya tanpa ragu.
Bukan bekas, bukan ala kadarnya—tetapi baru, persis seperti milik yang hilang.
Kisah Anak SMP yang Kehilangan Sepeda
Suatu sore selepas salat Asar, seorang anak SMP datang tergopoh-gopoh ke takmir.
Sepeda onthel yang ia gunakan untuk ke masjid hilang. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis.
Ustadz Jazir mengingat momen itu dengan jelas.
“Dia menangis. Kami tanya rumahnya di mana, sepedanya seperti apa. Kami antarkan ke rumahnya sambil membawa uang,” ujarnya.
Sesampainya di rumah, takmir berbicara dengan ibunya.
“Berapa dulu beli sepedanya?” tanya takmir.
“Rp 1,6 juta, Pak,” jawab sang ibu.
Tanpa pikir panjang, uang itu diserahkan. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat takmir terdiam haru. Sang ibu tersenyum, lalu berkata,
“Pak, ini kami kembalikan saja untuk infak masjid.”
Ketulusan yang Berbuah Keberkahan
Pelayanan seperti ini tidak membuat kas masjid menipis. Justru sebaliknya, keberkahan mengalir.
Tahun 1999, infak masjid hanya Rp 800 ribu per tahun. Dua puluh tahun kemudian, angka itu melonjak menjadi Rp 3,6 miliar setahun.
Bagi Masjid Jogokariyan, keamanan dan kenyamanan jamaah adalah kunci. Karena ketika hati jamaah merasa aman, mereka akan kembali—lagi dan lagi.
Tidak sekadar untuk salat, tapi juga untuk mengaji, bersedekah, berobat, atau sekadar bertukar cerita.
Dan di setiap kunjungan itu, mereka tahu: di masjid ini, kehilangan hanyalah pintu menuju rasa syukur. (wedangkraton)