MAGELANG – Malam Ahad Legi itu, langit Dusun Grogolan, Desa Jambewangi, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, tampak mendung.
Suhu udara hanya sekitar 22 derajat, cukup menusuk kulit. Namun hawa cukup dingin tidak menyurutkan langkah warga untuk berkumpul di Masjid Istiqomah, bakda Isyak.
Selapanan yang biasa digelar setiap Ahad Legi, kali ini bertepatan dengan peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pentausiahnya KH Nurul Huda, dari Ngeletoh, Payaman. Isi ceramahnya, malam itu mengaitkan makna kemerdekaan dengan kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Dengan suara teduh, ia mengingatkan jamaah bahwa kemerdekaan bukan hanya hadiah sejarah, melainkan karunia besar dari Allah SWT.
“Kalau tidak merdeka angel, rekoso. Ngaji ngonten niki mboten saget. Disangka yang tidak-tidak,” ujarnya.
Jamaah pun mengangguk, menyadari betapa berharganya kebebasan yang kini bisa mereka nikmati.
Ia menekankan bahwa kemerdekaan bukanlah kebebasan tanpa batas.
“(Mengisi Kemerdekaan) Mlakune nopo wonten batese? nopo mboten wonten batas ipun? Maka jawabnya ada batas ipun,” katanya.
Merdeka, lanjutnya, berarti punya ruang untuk membangun. Bukan sekadar badan, tetapi juga jiwa.
“Membangun jiwa mawi ngaos. Kalau mboten ngaos, jiwanipun mboten kebangun,” jelasnya.
Menurutnya, dengan mengaji, orang akan mengenal akhlak, adab, serta sifat-sifat wajib Allah yang harus ditanamkan dalam hati.
SERAMBI. Jamaah laki-laki di serambi masjid sisi utara.Tak hanya tentang bangsa, sang kiai juga mengaitkan kemerdekaan dengan kehidupan sehari-hari. Terutama, dalam menghormati orang tua.
“Gawe bagus marang wong tuo mu. Maka anak-anak, putro panjenengan sedoyo, InsyaAllah nggeh ngormati panjenengan sedoyo,” pesannya.
Ia menyinggung fenomena anak yang berani melawan orang tua. Bahkan ada yang tega menendang ibunya. Wajah sang kiai tampak geram saat menceritakannya.
"Padahal, ridhone Allah tergantung ridhone wong tuo loro. Yang penting jangan mangkelke wong tuo. Ojo kebangeten,” katanya dengan nada tegas.
"Kapan ono anak wani karo wong tuo, uripe ora tentrem."
Suasana malam itu hening. Jamaah menyimak dengan penuh perhatian.
Di balik mendung dan dingin udara, hangatnya nasihat menuntun hati mereka untuk bersyukur, baik atas nikmat kemerdekaan maupun atas kehadiran orang tua.
Pengajian pun ditutup doa. Satu per satu jamaah beranjak pulang.
Wajah mereka tampak lega, seolah membawa pulang pesan baru: bahwa merdeka bukan hanya perihal bangsa, melainkan juga soal hati yang tahu bersyukur, dan lisan yang mampu menjaga kebaikan.
Di bawah langit malam yang muram, jamaah pulang dengan hati yang hangat—membawa pesan dari sang kiai untuk terus berbuat baik: tindakan maupun ucapan. “Ngrumati kesaenan, ngrumati kemerdekaan.” Ngrumati berarti merawat. (wedangkraton)