KEMERDEKAAN. Ustadz Lanang Mudadi dalam ceramahnya di Majelis Ma'rifatullah menyampaikan tentang Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan, Jumat 29 Agustus 2025. 
-----------

MAGELANG – Bulan Agustus belum berlalu. Semangat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 masih terasa di berbagai pelosok tanah air. 

Bukan hanya di lapangan desa yang ramai dengan lomba dan bendera merah putih yang berkibar. Tetapi, juga di majelis-majelis pengajian yang khidmat.

Jumat malam, 29 Agustus 2025, Majelis Ma’rifatullah di Perum Depkes, Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang kembali menjadi tempat berkumpulnya jamaah.

BACA JUGA: Sekilas Wedang Kraton

Pada kesempatan itu, pentausiah yang hadir adalah Ustadz Lanang Mudadi, seorang ulama asal Temanggung. 

Dengan suara tenang, ia membuka tausiah dengan mengingatkan kembali makna kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kemerdekaan yang Direbut, Bukan Hadiah

“Kemerdekaan yang diraih bukanlah sebuah hadiah. Tetapi kemerdekaan yang direbut oleh rakyat. Yang didalamnya termasuk ada kiai dan santri,” ucapnya tegas, disambut anggukan para jamaah.

Ustadz Lanang juga mengingatkan bahwa negara pertama yang mengakui dan memberi ucapan selamat atas kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. 

Sebuah ironi, sebab hingga kini Palestina masih berjuang untuk meraih kemerdekaan mereka sendiri.

“Negara yang pertama memberi ucapan selamat untuk kemerdekaan Indonesia adalah negara Palestina. Palestina sekarang belum merdeka, kita Indonesia sudah merdeka, ke 80 tahun.”

Pesan itu seakan menjadi tamparan halus bagi jamaah: betapa bangsa Indonesia sudah puluhan tahun menikmati kemerdekaan. 

Sementara di belahan dunia lain masih ada saudara yang terus berjuang.

Syukur atas kemerdekaan tidak cukup dengan lomba-lomba atau upacara bendera. Melainkan, harus diwujudkan dalam peningkatan ketakwaan kepada Allah.

“Alhamdulillah bisa salat jamaah. Menjalankan salat dengan tenang. Dengan nyaman. Umat Islam harus mendekatkan kepada Allah," tandasnya.

Di negara yang merdeka, umat Islam masih bisa beribadah dengan aman dan nyaman. 

Sementara itu, di negara yang dilanda konflik, ibadah pun sulit dilakukan. 

Inilah nikmat besar yang harus disyukuri.

Pesan dari Al-Hujurat: Takwa dan Silaturahmi

Dalam tausiahnya, Ustadz Lanang kemudian menukil ayat suci Al-Qur’an. Surat Al-Hujurat ayat 13.

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan diukur dari harta atau kedudukan. Melainkan, dari ketakwaan.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa,” tuturnya.

Selain itu, ayat tersebut juga mengingatkan pentingnya manusia untuk saling mengenal.

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Menurut Ustadz Lanang, makna ayat itu sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kenal, tidak bersahabat. Kalau jarang ketemu, setan membisikkan keburukannya. Maka itu ada silaturahmi."

Silaturahmi tersebut sebagai penangkal. Agar tidak ada prasangka buruk kita kepada orang lain: teman, saudara, sahabat.

Silaturahmi, lanjutnya, bukan hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga membawa banyak berkah.

“Berkah dari silaturahmi kita bisa senyum. Kalau senyum bahagia bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Imun menjadi meningkat. Kalau nguya nguyu jadi sehat. Seneng terus. Kalau silaturahmi banyak sehatnya. Kalau sehat akan banyak rejeki.”

PENGAJIAN. Jamaah pengajian di Majelis Ma'rifatullah Perum Depkes, Jumat malam 29 Agustus 2025.
----------

Lomba Sejati: Mengejar Ketakwaan

Di hadapan jamaah, Ustadz Lanang menegaskan bahwa perlombaan yang sesungguhnya bukanlah siapa yang paling kaya, paling tinggi jabatannya, atau paling besar perusahaannya.

“Ketakwaanlah yang diburu. Orang yang bertakwa akan masuk surga tanpa diperiksa tanpa disiksa,” katanya.

Ia menjelaskan, orang yang rajin bertaubat dan beristighfar ibarat mencuci dirinya di dunia.

Taubah dan istighfar dari dosa-dosa.

“Bertaubat dan beristiqfar itu ibarat mesin cuci. Kalau dicuci di dunia maka di akhirat sudah aman. Tapi kalau tidak taubat dan istighfar di dunia, maka ibaratnya akan dicuci di neraka.”

Dengan nada bercanda yang disambut tawa jamaah, ia menutup bagian itu dengan berkata.

“Ngaji seperti ini meningkatkan ketakwaan. Pendidikan menciptakan takwa. Gerimis-gerimis gini yo tetap mangkat.”

Agama dan Negara: Saudara Kembar

Ustadz Lanang juga menyinggung soal peran agama dalam kehidupan bernegara. 

Ia menukil pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya’ Ulumuddin.

“Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan.”

Ia kemudian menegaskan kembali.

“Sesuatu tanpa landasan akan roboh. Sedangkan sesuatu tanpa pemeliharaan akan lenyap.”

Menurutnya, penyelenggaraan pengajian bukan hanya tanggung jawab takmir masjid semata. Tetapi, juga perlu mendapat dukungan dari pemerintah.

“(Daerah) Sik ora ono pengajian perlu didukung. Pakai APBD. Ojo dikorupsi.”

Pesan itu disampaikan dengan nada serius, sekaligus mengingatkan agar pejabat tidak terjerat mentalitas “aji mumpung.” Indonesia ini kaya raya. 

Kaya akan sumber daya alam. Tambang, hasil hutan, minyak, lautan. 

Tapi, kalau salah mengelola, atau pejabat yang melalukan penyelewengan, maka kemakmuran tidak akan tercipta.

“Persoalannya manusianya. Falsalahnnya aji mumpung. Mumpung pas menjabat, terus ada yang mengkorupsi."

Kesenjangan dan Pentingnya Ngaji

Ustadz Lanang juga menyoroti kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat.

“Ada hidup kesenjangan. Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin miskin.”

Ia menilai, salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman agama. 

'Dijelaskan banyak orang tidak paham agama karena tidak ngaji. Makanya perlu difasilitasi untuk ngaji.”

Dengan mengaji, lanjutnya, masyarakat akan lebih bertakwa. 

Dan dengan ketakwaan itulah Allah menjanjikan keberkahan hidup.

“Maka (dengan ketakwaan) Allah SWT akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi. Menciptakan kemakmuran dan keadilan bagi warganya, serta memberikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki yang tak terduga.”

Kemerdekaan Belum Tuntas

Menjelang akhir tausiah, Ustadz Lanang kembali menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia memang sudah diraih. Tetapi, belum sepenuhnya tuntas dalam segala bidang.

“Kemerdekaan memang belum diraih secara tuntas dalam segala bidang. Namun itulah tugas kita sebagai warga negara yang baik untuk tak hanya mengeluhkan keadaan tapi juga harus turut serta memperbaiki.”

Pesan itu seakan menjadi penutup yang membekas. 

Jamaah yang hadir malam itu bukan hanya pulang dengan ilmu. Tapi, juga dengan kesadaran baru: bahwa menjaga kemerdekaan bukan hanya tugas pejuang masa lalu, melainkan tanggung jawab generasi hari ini dan seterusnya.

Malam itu, pengajian bukan hanya menjadi ruang untuk mendengar ceramah, melainkan juga wadah untuk merajut kebersamaan. 

Suasana hangat silaturahmi menyelimuti dinginnya udara Magelang. 

Jamaah pulang dengan langkah ringan, membawa bekal ilmu, semangat baru, dan doa agar bangsa ini benar-benar merdeka lahir batin. (wedangkraton)