LANGSUNG. Kajian Ustadz Soleh Al Jufri yang disiarkan langsung dari Masjid Jami' Assegaf Solo, Selasa 16 September 2025.
----------
MAGELANG - Kajian Ustadz Soleh Al Jufri berlangsung. Selasa pagi, 16 September 2025. Lewat stasiun TV10 di siarkan langsung dari Masjid Jami’ Assegaf, Solo. Wedang Kraton pun menyimak di Magelang.
Topiknya sederhana, tapi menggelitik hati: tentang siapa yang cerdas dan siapa yang bodoh.
“Ini bukan soal matematika,” ujar Ustadz Soleh.
“Bukan soal banyaknya pengetahuan. Dalam bahasa Arab disebut al-‘aqil. Yaitu orang yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.”
Kalau tahu baik lalu dikerjakan, itulah cerdas. Kalau tahu buruk lalu dijauhi, itu pun cerdas. Tapi kalau tahu baik malah ditinggalkan, tahu buruk malah diterobos—itulah bodoh.
Definisi Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memberi definisi yang berbeda. Lebih dalam. Bukan soal nilai tinggi, bukan soal prestasi akademik. Bukan juga soal luasnya wawasan.
“Orang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkan dirinya untuk kematian itu,” kutip Ustadz Soleh.
Pesannya sederhana, kalimatnya pendek, tapi maknanya luas. Intinya: cerdas itu bukan sekadar tahu. Tapi mau. Mau berbuat baik, mau menundukkan nafsu, mau menyiapkan diri menghadapi akhirat.
Pertarungan Akal dan Nafsu
Ustadz Soleh menekankan, sumber kebaikan manusia itu ada pada akalnya. Kalau akal bisa mengalahkan nafsu, pasti muncul kebaikan. Tapi kalau nafsu yang menguasai akal, hasilnya keburukan.
“Penjahat itu banyak yang pintar,” katanya.
“Tapi mereka tidak cerdas. Karena pintar mereka dipakai untuk menipu, untuk merusak, untuk menyakiti.”
Di sinilah bedanya pintar dan cerdas. Pintar bisa dipakai untuk akal-akalan. Tapi cerdas selalu dipakai untuk kebaikan.
Nyaris Tak Punya Musuh
Menurut Ustadz Soleh, ada satu ciri penting dari orang cerdas: nyaris tidak punya musuh. Sedangkan orang bodoh: nyaris tidak punya teman.
Kenapa begitu? Karena orang cerdas selalu berbuat baik. Dan kebaikan itu disenangi siapa pun. Orang baik biasanya punya banyak pembela. Bahkan ketika menghadapi masalah, orang lain akan datang menolong.
“Kalau kita di kampung, di masyarakat,” kata Ustadz Soleh, “coba ukur diri. Lebih banyak punya kawan atau musuh? Kalau banyak musuh, hati-hati. Kalau banyak kawan, insyaAllah itu tanda kecerdasan.”
Empat Tanda Orang Cerdas
Al-Habib Abdullah bin Al-Awwil Haddad memberikan ukuran lebih jelas: ada empat tanda orang cerdas.
Pertama, tidak kagetan ketika ditimpa musibah. Ia tetap tabah, tetap sabar.
Kedua, amalannya dijaga ikhlasnya. Tidak riya, tidak pamer.
Ketiga, bersabar atas perlakuan buruk orang lain. Tidak membalas, walaupun mampu.
Dan keempat, selalu menyesuaikan diri dengan keadaan orang lain, bukan menuntut orang lain menyesuaikan diri dengannya.
“Itu yang disebut mudârah,” jelas Ustadz Soleh.
“Orang cerdas itu tidak keras kepala. Ia pandai menempatkan diri, tahu kapan harus bicara, tahu kapan harus diam, tahu bagaimana bersikap di hadapan siapa pun.”
Balas dengan Lebih Baik
Ada satu ayat yang menegaskan semua itu:
“Balaslah keburukan dengan sesuatu yang lebih baik.” (QS. Fushshilat: 34).
“Kalau orang marah, balaslah dengan sabar. Kalau orang ceroboh, balaslah dengan tenang,” ujar Ustadz Soleh.
Beliau lalu mengutip tafsir Jalalain: sabar itu kita masih marah tapi ditahan, sedangkan hilmi lebih tinggi lagi—mampu membalas tapi memilih untuk tidak membalas.
Filosofi Jawa menyebutnya ngalah. Dengan ngalah, musuh bisa berubah jadi kawan.
Dari rangkaian ceramah itu, pesan yang panjang tapi jelas: cerdas bukan sekadar pintar. Cerdas adalah memilih kebaikan, mengingat mati, menundukkan nafsu, dan menebar kasih sayang di tengah manusia. (wedangkraton)