----------
MAGELANG - Selasa pagi, 23 September 2025. Udara Solo masih lembut, ketika kamera TV10 menyorot Masjid Jami’ Assegaf.
Jamaah sudah duduk rapi. Wajah-wajah penuh harap. Dari Magelang, Wedang Kraton pun ikut menyimak lewat layar kaca.
Kajian pagi itu dibawakan Ustadz Soleh Al Jufri. Suaranya tenang, kalimatnya sederhana. Namun pesannya dalam.
Ia membuka dengan pengingat yang sangat mendasar. Allah memberikan manusia akal. Dengan akal, manusia mampu berpikir. Mampu menimbang. Mampu menahan diri.
Tapi Allah juga memberi manusia nafsu. Nafsu ini, kata beliau, tidak bisa dihapus. Ia melekat pada diri manusia. Ia menjadi ujian.
“Kalau akal yang memimpin, jadilah ia orang baik. Kalau nafsu yang memimpin, rusaklah hidupnya,” ujar Ustadz Soleh.
Kalimat itu singkat. Tapi jamaah terdiam. Ada getar halus dalam hati.
Akal dan nafsu ibarat dua penumpang dalam satu kendaraan. Masalahnya, siapa yang memegang setir?
Jika akal yang mengemudi, perjalanan akan terarah. Tidak ngebut sembarangan. Tidak menabrak rambu. Sampai tujuan dengan selamat.
Tapi kalau nafsu yang memegang setir, perjalanan bisa berantakan. Ngebut tanpa arah. Menabrak apa saja. Akhirnya celaka.
Ustadz Soleh menyebut, nafsu itu seperti kuda liar. Kuda yang penuh tenaga. Kalau dikendalikan dengan tali kekang, kuda itu bisa bermanfaat.
Bisa membawa penunggangnya ke tempat tujuan.
Tapi kalau dibiarkan liar? Ia akan menendang, menyeruduk, bahkan bisa membunuh penunggangnya sendiri.
Begitu pula manusia.
Nafsu tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi energi. Energi untuk bekerja. Energi untuk mencari nafkah. Energi untuk beribadah.
Orang yang lapar karena nafsu makan, bisa bergerak mencari rezeki. Orang yang ingin memiliki, bisa terdorong untuk berkarya.
Namun semua itu harus dikendalikan.
Akal adalah kendalinya.
Tanpa akal, nafsu akan membabi buta. Orang makan berlebihan hingga sakit. Orang mengejar harta tanpa peduli halal-haram. Orang mencari kedudukan dengan cara menghalalkan segala cara.
“Kalau akal kalah, nafsu jadi raja. Kalau nafsu jadi raja, kehancuran pasti datang,” tegas Ustadz Soleh.
Fenomena hari ini, kata beliau, sangat jelas. Banyak orang pintar. Ilmunya tinggi. Gelarnya panjang. Tapi hidupnya tidak benar.
Kenapa? Karena nafsu tetap jadi raja.
Ilmu hanya dipakai untuk mengakali orang lain. Untuk mencari keuntungan pribadi. Untuk memperkaya diri.
“Orang cerdas belum tentu orang benar,” ujarnya.
Sebaliknya, orang yang benar bisa saja bukan profesor. Bukan pejabat. Bukan pengusaha besar.
Tapi ia tahu batas. Ia tahu halal dan haram. Ia tahu kapan harus berhenti. Itulah tanda akalnya sehat.
Ustadz Soleh lalu mengingatkan. Bahwa manusia, sekuat apa pun, tetap bisa tergelincir oleh nafsu.
Karena itu Nabi mengajarkan doa agar nafsu tidak menguasai diri. Agar akal tetap jernih. Agar hati tetap bersih.
Akal tanpa iman, berbahaya. Ia bisa melahirkan kecerdasan yang menipu. Melahirkan kelicikan.
Nafsu tanpa kendali, menghancurkan. Ia bisa membuat orang jatuh ke jurang dosa.
Betapa banyak orang sukses di dunia, tapi hancur karena nafsu. Korupsi. Zina. Minuman keras. Judi.
Semua berawal dari tidak mampu mengendalikan nafsu.
Ustadz Soleh menyinggung hal sederhana. Makan.
Makan itu kebutuhan. Tapi kalau nafsu yang berkuasa, orang bisa rakus. Tidak peduli sekitarnya lapar. Tidak peduli ada yang kekurangan.
Nafsu juga muncul dalam bentuk lain. Keinginan untuk dihormati. Ingin tampil. Ingin menang.
Kadang nafsu itu membungkus diri dengan alasan mulia. Padahal intinya hanya ingin dipuji.
Kalau tidak dikendalikan, manusia akan terjebak dalam tipu daya nafsu.
Ada kisah yang diselipkan beliau. Tentang seorang ulama terdahulu.
Ulama itu pernah ditanya, apa yang paling berbahaya bagi manusia. Ia menjawab: bukan setan, bukan orang lain. Yang paling berbahaya adalah nafsu dirinya sendiri.
Karena setan hanya bisa membisikkan. Tapi yang memutuskan adalah manusia.
Kalau akalnya kalah, bisikan setan jadi perintah. Kalau akalnya menang, bisikan itu bisa ditepis.
“Musuh terbesar manusia adalah nafsunya sendiri,” kata Ustadz Soleh.
Di tengah kajian, Ustadz Soleh berhenti sejenak. Jamaah terdiam. Hanya terdengar suara helaan napas.
Beliau melanjutkan dengan suara lebih lembut. “Kalau akal dikalahkan nafsu, habislah manusia itu.”
Pesan itu sederhana. Tapi menghujam.
Dalam kehidupan sosial, tanda nafsu berkuasa bisa mudah dilihat.
Pejabat yang korupsi. Pedagang yang menipu. Anak muda yang mabuk. Orang tua yang serakah.
Semua itu contoh nafsu jadi raja.
Tapi ada juga tanda akal yang berkuasa.
Petani yang tetap jujur meski hasil panennya sedikit. Pedagang kecil yang tidak mengurangi timbangan. Anak muda yang memilih belajar daripada mabuk.
Mereka mungkin sederhana. Tidak viral. Tidak masuk berita. Tapi mereka lebih selamat.
Hidup ini, kata Ustadz Soleh, soal pilihan.
Mau dipimpin akal atau nafsu. Mau ikut jalan benar atau jalan salah. Mau menahan diri atau menuruti hawa nafsu.
Semua ada akibatnya.
Kalau nafsu yang menang, rusak hidupnya. Kalau akal yang menang, selamat dunia akhirat.
Di akhir kajian, Ustadz mengajak jamaah bershalawat.
“Allahumma salli ala Muhammad.”
Lembut. Menyentuh. Seakan menjadi penutup manis setelah peringatan keras.
Kajian itu sederhana. Tapi pesannya besar.
Bahwa hidup ini, pada akhirnya, hanya soal siapa yang berkuasa dalam diri kita. Akal atau nafsu? (wedangkron)