----------
MAGELANG - Wedang Kraton turut menyimak ceramah pagi Ustadz Sholeh Al Jufri di Masjid Jami' Assegaf, Surakarta dari layar kaca, Selasa 2 September 2025.
Materinya adalah Hikmah ke-102 dari Hikam Haddadiyah: "Man Salaka Malaka, Wa Man Hada Halaka."
Terjemahan sederhananya: "Siapa yang berjalan (di atas ajaran Rasulullah), dia akan memiliki (kebahagiaan dan kontrol diri). Dan siapa yang melenceng, dia akan celaka."
Ini bukan sekadar wejangan, tapi sebuah garansi dan peringatan yang gamblang.
Kontrol Diri
Inti dari "Man Salaka Malaka" adalah penguasaan diri. Ustaz Sholeh mengingatkan kita, mestinya kita ini adalah tuan dari kuda: diri kita.
Kita yang menentukan kapan kuda itu jalan, berhenti, atau istirahat. Namun, jika kita melenceng dari ajaran Rasul, kita akan dikontrol oleh kuda itu sendiri—atau lebih tepatnya, oleh Setan.
Kapan Setan bisa masuk? Ketika kita lalai atau goflah.
Ustadz kemudian menyentil soal cinta: Kalau mengaku cinta Indonesia, ya taat aturan.
Kalau naik motor tidak pakai helm, kata Ustadz, itu tanda belum benar-benar cinta.
Mengikuti aturan syariat adalah tanda cinta kita kepada Rasulullah. Sesederhana itu logikanya.
Nikmat Terbaik: Ketenangan Batin
Hadiah terindah dari mengikuti jalan lurus adalah Hayatan Thayyibah—kehidupan yang baik, yang enak.
Namun, enak di sini tidak melulu soal rumah mewah atau uang banyak. Enak adalah soal pikiran tenang dan hati yang ringan.
Seringkali kita silau melihat orang kaya yang hidupnya terlihat serba ada, padahal batinnya kosong.
Ada yang jam 8 sudah pulas tidur di emperan jalan, sementara si kaya harus minum obat tidur dulu. Keadilan Tuhan itu sempurna.
Kekayaan hakiki, kata Ustadz Sholeh, adalah ketika kita rida. (Wardho bima qasamallahu laka takun aghnanas). Siapa yang rida, dia adalah manusia yang paling kaya hatinya.
Dosa Besar yang Diremehkan
Salah satu punchline paling menohok dalam kajian ini adalah soal dosa.
Ustadz menyampaikan bahwa di akhir zaman ini, dosa besar itu seperti dianggap dosa kecil.
Contohnya: Ngerasani atau ghibah. Beliau bertanya, siapa yang bisa jujur tidak menggunjing orang sehari saja?
Ternyata, ghibah adalah dosa besar. Namun, karena kebiasaan, kita meremehkannya. Inilah bahayanya "melenceng" sedikit.
Melihat Balasan, Tapi Tak Mendapatkannya
Ayat tentang amal baik seberat zarah yang akan dilihat balasannya (Yarah) disoroti dengan tajam.
Kata Ustadz, orang yang beramal saleh tapi tidak beriman atau tidak ikhlas atau riya, akan melihat balasan surga yang seharusnya ia dapat.
Ia akan diperlihatkan: "Ini seharusnya kamu dapat, tapi hangus karena tidak ada iman atau keikhlasan."
Melihat hadiahnya, tapi tak bisa mengambilnya. Itulah yang paling menyakitkan.
Sebaliknya, ada orang ahli maksiat yang dihapus dosa-dosanya oleh syafaat Rasulullah. Ini yang membuat setan paling jengkel.
Pada akhirnya, hidup adalah pilihan: Jalan Lurus atau Melenceng.
Jalan lurus akan mengantarkan pada kekuasaan: kontrol diri, hati yang kaya dan balasan lebih baik.
Melenceng, sekecil apapun itu, adalah resep menuju kehancuran. Termasuk melanggengkan ngerasani yang kita anggap enteng. (wedangkraton)