CERAMAH. Ustadz H. Imam Santoso, S.Ag saat menyampaikan ceramah di Masjid Muhajirin, Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang, Jumat 12 September 2025.
----------
MAGELANG - Masjid Muhajirin, Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang ramai: jamaah penuh. Jumat Pahing, 12 September 2025.
Pengajian selapanan. Waktunya setelah Magrib, sampai Isyak. Dibuka dengan salat berjamaah. Ditutup dengan salat berjamaah.
Laki-laki duduk di utara dan selatan. Perempuan di timur. Ada yang bersandar ke dinding. Ada yang duduk rapi di atas karpet empuk. Semuanya khidmat mendengar.
Di sisi barat, duduk penceramah malam itu. Ustadz H. Imam Santoso, S.Ag.
Berbaju putih. Bersarung. Berkacamata.
Awalnya beliau bicara tentang jin. Membaca 10 ayat dari surat Al-Jin. Dari situ, arah ceramah pelan-pelan masuk ke inti: masjid.
Tulisan ini hanya sekelumit catatan. Bagian kecil saja dari apa yang beliau sampaikan. Tapi cukup menggugah.
“Maka membangun masjid, kalau masjidnya sangat mulia, maka orang yang membangun masjid pun dimuliakan oleh Allah.”
Ustadz Imam mengutip sabda Nabi: Man banna masjidan lillah banaallaahu lafu fiil jannati mitslah.
Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan rumah baginya di surga.
Besar atau kecil sumbangannya, tak masalah. Tetap bernilai.
“Coro kasare ming sewu. Besok di hadapan Allah itu akan nampak.”
Kini, menurutnya, kesadaran itu makin tumbuh. Orang-orang menyumbang. Ada yang berupa uang. Ada yang bahan bangunan. Ada yang tenaga.
“Ora solat yo nyumbang masjid. Lik nyumbang yo okeh,” katanya sambil tersenyum.
Beliau kemudian bercerita tentang sebuah kampung. Tentang masjid di sana.
“Masjid harus lebih baik dari rumah yang di sekitarnya.”
Caranya sederhana. Tiap kepala keluarga iuran sejuta rupiah. Bisa dicicil setahun. Seratus ribu per bulan.
----------
Dalam setahun terkumpul Rp140 juta. Ditambah kas masjid Rp60 juta. Total Rp200 juta.
Masjid pun dibongkar. Sementara waktu, salat dialihkan ke madrasah.
“Terus dibongkar sedemikian rupa. Pokoke ngadek sek terus iso gawe solat meneh. Engko finishinge alon-alon.”
Awalnya diperkirakan lima tahun selesai. Tapi ternyata hanya satu setengah tahun.
Dari Rp200 juta, jadi masjid senilai Rp1 miliar.
MasyaAllah.
Bantuan datang tak disangka. Ada dermawan yang lewat, menyumbang semen satu truk. Ada yang memberi pasir. Ada yang menanggung keramik.
Tapi anehnya, setelah jadi, tidak semua warga memanfaatkannya.
“Sing sobo masjid ora kabeh. Aneh to niku?”
Tokoh agama di kampung itu turun tangan. Menasihati perlahan. Hasilnya? Jamaah mulai bertambah.
Pesannya jelas: masjid yang dibangun tapi tidak dipakai, percuma. Tak ada nilai jariyah.
“Masjid akan menjadi amal jariyah. Kalau masjidnya dipakai. Dienggo. Gawe ngibadah. Ayo gawe ngibadah.”
Hasilnya terasa. Salat Subuh, yang dulu hanya tujuh atau delapan orang, kini dua shaf. Kalau semua datang, masjid bisa penuh.
Ustadz Imam menekankan satu hal.
“Kalau masjid memang butuh sesuatu, misalnya kabel HDMI seperti ini, setiap dipakai ada amal jariyahnya. Jadi semua fasilitas masjid akan mendatangkan pahala," ucapnya sambil memegang kabel HDMI berwarna biru.
Beliau menyinggung Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.
“Apalagi kalau bisa seperti Masjid Jogokariyan Jogja. Kata Ustadz Jazir, masjid itu bisa mensejahterakan jamaahnya. Masjid sebagai pusat peradaban. Apa yang diperlukan jamaah, dipenuhi bareng-bareng.”
Pusat peradaban. Bukan sekadar bangunan.
Membangun umat itu memang tidak mudah.
Tapi harus diusahakan.
Masjid adalah amal jariyah. Masjid adalah pusat peradaban. Masjid adalah cermin kesadaran umat.
Dari sekeping niat kecil, bisa jadi rumah di surga. Semua bermula dari satu langkah. Membangun dengan hati. (wedangkraton)