MAGELANG - Wedang Kraton menyimak siaran langsung dari TV10, dari Masjid Jami' Assegaf di Solo, Selasa 30 September 2025.
Suasananya khidmat sekali. Ustadz Sholeh Al Jufri sedang membuka lembaran baru. Bukan sembarang lembaran. Ini soal Kitab Al-Adabul Mufrad karya Imam Bukhari.
Tapi, ada fakta yang lebih mengagetkan dari kitab setua itu. Ada koneksi yang melompat abad.
Mungkin banyak yang tidak tahu, makam seorang tokoh yang keharumannya melintasi zaman, Imam Bukhari, pernah lama terabaikan di Samarkand, Uzbekistan.
Padahal, dia adalah penulis kitab hadis paling sahih setelah Al-Qur’an.
Sejarah mencatat: Adalah Presiden Soekarno, Proklamator kita, yang ikut menaruh perhatian besar.
Presiden pertama Indonesia ini berperan dalam menemukan dan memugar makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan.
Kisah ini berawal dari undangan kenegaraan ke Uni Soviet, di mana Soekarno mengajukan syarat agar makam Imam Bukhari ditemukan dan direvitalisasi terlebih dahulu.
Permintaan setempat kemudian ditindaklanjuti, dan kunjungan Soekarno ke makam tersebut pada tahun 1956 menjadi titik balik yang menjadikan situs itu terkenal dan kini menjadi destinasi wisata religi umat Islam.
Ustadz Sholeh Al Jufri menjelaskan, makam itu “…sempat terabaikan dulu sempat tidak diurus, tapi Presiden Soekarno itu datang ke sana dan beliau istilahnya berinisiatif untuk mengurus makam Imam Bukhari.”
Persambungan spiritual ini menakjubkan. Antara pendiri bangsa modern dengan mujahid ilmu di masa lalu.
Koneksi inilah yang membawa Wedang Kraton—di pagi yang berkah itu—tergugah untuk menyelami warisannya.
Adab di Atas Syarat
Kitab ini unik. Ia secara harfiah berarti "Adab yang Menyendiri," karena punya syarat tersendiri, berbeda dari Shahih Bukhari.
Di kitab agungnya, Imam Bukhari super ketat. Semua hadis harus sahih—valid 100%. Di Al-Adabul Mufrad beliau sedikit melonggarkan. Ada shahih, hasan, bahkan ada yang dhaif (lemah).
Boleh? Boleh.
Menurut Ustadz Sholeh, hadis dhaif ini bisa diamalkan untuk urusan Fadhailul A’mal (keutamaan amal), bukan untuk fondasi akidah.
“Beda halnya kalau misalnya hal-hal yang berkaitan dengan akidah… harus dalil yang shahih mutawatir,” tegas beliau.
Tiga perempat kitab ini tetap kuat, menjadikannya kumpulan adab yang amat kaya.
Sang Maestro yang Buta
Lalu, siapa sebenarnya sang maestro ini?
Imam Bukhari bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia. Kehebatan beliau sudah dicetak sejak rumah.
Ayahnya, Ismail, pernah berkata: "Selama saya hidup saya tidak pernah memasukkan harta yang syubhat ke rumah saya."
Lingkungan halal mutlak.
Di masa balita, beliau pernah buta.
Ibunya, seorang waliah dan ahli ibadah, rutin tahajud memohon kesembuhan. Sampai ia bermimpi bertemu Nabi Ibrahim yang mengatakan:
"Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengembalikan penglihatan anakmu."
Seketika, Imam Bukhari bisa melihat lagi.
Inspirasi menulis hadis sahih datang dari gurunya. Tetapi semangatnya dikuatkan tirakat total.
Beliau menulis Shahih Bukhari selama 16 tahun. Sebelum menulis satu hadis, beliau akan mandi, berwudu, dan salat Istikharah dua rakaat. Satu hadis, satu istikharah. Dedikasi yang luar biasa.
Daya ingatnya? Di luar nalar.
Para ahli hadis Baghdad pernah menguji beliau dengan 100 hadis yang sanadnya diacak-acak.
Beliau selalu menjawab:
"La a’rifuhu. Saya tidak tahu," di setiap hadis yang keliru. Namun, setelah semua selesai dibacakan, beliau membenarkan semua 100 hadis itu, sekaligus menghafal 100 hadis yang salah susunan tersebut saat itu juga.
Karomah Kuburan Wangi
Imam Bukhari wafat pada malam Idulfitri, di usia 60 tahun. Setelah dimakamkan, seketika kuburannya mengeluarkan bau harum.
“Seketika itu langsung keluar bau yang sangat harum dari kuburnya Imam Bukhari,” jelas Ustadzp Sholeh.
Wanginya bertahan berhari-hari.
Karomahnya berlanjut. Penduduk Samarkan pernah dilanda paceklik. Mereka tawasul di makam beliau. Hujan turun sangat lebat saat itu juga.
Inilah sosok yang Wedang Kraton simak adabnya. Bukan sekadar hafal hadis, tetapi menjadikan setiap jejak hidupnya persis seperti telapak kaki Nabi.
Dan berkat kesalehan total itu, keberkahannya disambungkan hingga ke inisiatif Proklamator dari Nusantara. (wedangkraton)