CERAMAH. Dalam suatu kesempatan, Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D saat berceramah di Masjid Kampus UGM.
----------

MAGELANG – Malam Jumat, 10 Oktober 2025, halaman Majelis Ma’rifatullah, Perum Depkes, Kota Magelang terasa lebih teduh dari biasanya. Jamaah membludak dari biasanya. Mereka duduk rapi dengan wajah antusias. 

Di depan, sosok bersahaja duduk tersenyum: Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta.

Bukan sekadar dosen kampus ternama, malam itu Prof. Agung tampil sebagai guru kehidupan.
Tema yang dibawakan pun sederhana, tapi menohok: parenting dalam perspektif Islam.

Yang menyangkut parenting, kajian membahas dengan kisah yang dikenal setiap muslim: Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail.

Prof. Agung membacakan sepenggal ayat dengan suara bergetar lembut:

“Yā bunayya…” — Wahai anakku sayang… (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kalimat ini luar biasa. Nabi Ibrahim tidak memanggil dengan perintah. Tapi dengan kasih sayang.

Ia menekankan bahwa pendidikan anak pada masa kecil tidak boleh dibangun dengan bentakan atau ancaman.

“Kalau anak masih kecil, jangan kebanyakan disuruh. Tunjukkan lewat contoh,” ujarnya.

“Misal anak umur tiga tahun belum bisa pakai sepatu, jangan disuruh. Tapi dipakaikan. Kalau mau makan, ajak berdoa."

Katakan: ‘Ndongo ndisik.’ Itu sederhana, tapi sangat mendidik.”

Beberapa jamaah tampak mengangguk pelan. Ada yang tersenyum, mungkin merasa disentuh.
Begitulah gaya Prof. Agung — santai, tapi menusuk hati.

Ismail Ikut Membangun Ka'bah

Prof. Agung kemudian mengutip QS. Al-Baqarah: 127:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami)."

Ini pelajaran penting.

Nabi Ibrahim tidak menyuruh Ismail hanya menonton. Tapi memberi contoh. Ismail kecil ikut membantu, walau semampunya.

"Ismail ikut membantu," katanya.

Bapak-anak bekerja bersama membangun Ka’bah.
Inilah pendidikan sejati: melibatkan anak dalam amal, bukan hanya memerintah.

Malau mau anak rajin, jangan cuma disuruh belajar. Ajak bareng-bareng.

Kalau mau anak cinta kerja keras, libatkan. Jangan cuma perintah dari jauh.

Dari sinilah lahir konsep pendidikan berbasis keteladanan. Anak meniru lebih cepat daripada mendengar.

Ketika Anak Dewasa: Saatnya Dialog

Suasana majelis hening ketika Prof. Agung membuka lembar berikutnya:
kisah penyembelihan Nabi Ismail, peristiwa yang menjadi asal usul Hari Raya Idul Adha.

Ia membaca ayat QS. Ash-Shaffat: 102 dengan penuh penghayatan:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

Ibrahim tidak berkata: “Aku akan menyembelihmu.”

Ia justru bertanya: “Apa pendapatmu?”

Dialog yang tulus antara seorang ayah dan anak.
Dan Ismail menjawab:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Lihat. Ini bukan sekadar kisah.

Itu contoh bagaimana seorang ayah menghargai pikiran anaknya.

Kemudian ia tersenyum tipis:

“Kalau anak sudah besar, jangan lagi dididik dengan perintah. Didiklah dengan dialog. Diajak bicara," kata Prof. Agung.

Dari kisah inilah lahir ibadah kurban — bukan semata tentang menyembelih hewan, tapi tentang ketaatan dan cinta yang tulus antara ayah dan anak.

Video Es Nanas: Belajar dari Pengalaman

Setelah sesi tafsir, Prof. Agung memutar sebuah video pendek di layar proyektor.

Ceritanya sederhana, tapi menyentuh.
Seorang anak kecil membantu ibunya berjualan nanas.

Nanas itu diolah menjadi es krim, tapi tak ada satu pun pembeli.

Anak itu pulang dengan wajah sedih.
Sang ibu tidak marah. Ia tersenyum dan bertanya lembut:

“Kenapa tidak laku, Nak?”

“Kira-kira bagaimana supaya bisa laku?”

Video itu berbahasa Inggris, tapi ada teks terjemahan Indonesia di bawahnya.

Prof. Agung sesekali membacakan dengan nada bercanda.

“Kalau njenengan jadi ibunya, mesti langsung ngomel, to?

"Sudah dibilangin jangan jualan begitu!"

Jamaah tertawa. Tapi setelah tawa reda, beliau melanjutkan pelan:

“Padahal ibu itu sedang mengajarkan hal besar: berpikir, bukan takut.”

Anak itu kemudian mencoba lagi. Ia mengubah strategi, menulis promo di karton: 

“Beli 3 gratis 1.”

Kali ini jualannya laku.

Prof. Agung menatap jamaah dengan tenang.

“Anak itu tidak sedang dilatih mencari uang. Ia sedang dilatih menghadapi hidup.
Itulah pendidikan yang sesungguhnya — belajar dari pengalaman, bukan dari omelan.”

Guyonan yang Menyentil

Setelah video usai, suasana kembali cair.
Prof. Agung melontarkan guyonan yang disambut tawa jamaah.

“Sekarang kalau mama muda nyuruh anak makan, seringnya sambil main HP.
‘Nak, ayo makan, mamanya malah mainan HP."

Tawa pecah lagi.

Namun ia menutup guyonan itu dengan kalimat reflektif:

Padahal itu momen paling berharga.
Makan bersama bisa jadi ruang menanamkan nilai.

Ia menirukan logat Jawa dengan hangat:

“Ayo nek meh madang, donga ndisik. Katakan dengan ekspresif: Alhamdulillah, iso mangan bareng anak, iso mangan telur. Ciptakan atmosfer kesyukuran," jelasnya.

Anak itu peka. Mereka lebih percaya pada ekspresi cinta daripada seribu nasihat.

Refleksi: Teladan, Dialog, dan Cinta

Saat kecil, anak butuh teladan. Saat besar, anak butuh dialog. Tapi di antara keduanya, anak butuh cinta — cinta yang nyata.

Ia menatap jamaah satu per satu.

Beberapa menunduk, sebagian tersenyum, ada yang menitikkan air mata.

Parenting itu bukan teori. Itu seni mencintai dengan benar.

Kalau orang tua hadir dengan cinta, anak akan belajar iman, sabar, dan tanggung jawab — tanpa perlu diceramahi.

Anak tidak butuh teori. Mereka butuh contoh — dan cinta yang bisa mereka rasakan.

Anak-anak kita bukan hanya butuh dibimbing.
Mereka butuh dirangkul, didengarkan, dan dicintai. Agar, kelak bisa mencintai dengan cara yang benar. (wedangkraton)