TAUSIAH. Ustadz Miftah Khusurur S.Ag saat menyampaikan tausiah di Masjid An Namiroh, Jumat sore 19 September 2025.
----------
MAGELANG - Waktu bakda Ashar. Langit Magelang mulai condong ke barat, Jumat sore 19 September 2025.
Masjid An Namiroh, di Perum Depkes Blok A Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang yang berada di tengah permukiman warga, terlihat lebih ramai dari biasanya.
Jamaah ibu-ibu Nurrunnajah (cahaya kesuksesan) sudah datang lebih awal, yang sebagian bergegas setelah menyelesaikan urusan rumah.
Pengajian sore itu diawali dengan pembacaan surat Yasin. Suaranya bergema serempak, merata, lirih sekaligus kuat.
Setelah itu, jamaah bersama-sama melantunkan Asmaul Husna. Nama-nama indah Allah dipanggil satu per satu, menghadirkan suasana batin yang lembut.
Hingga akhirnya, tiba saatnya ceramah. Penceramah kali ini adalah Ust. Miftah Khusurur, S.Ag.
Tema - Mengimani Takdir: Kunci Ketenangan Hati Seorang Mukmin.
Beliau tampil sederhana, duduk di depan jamaah dengan senyum ramah. Tema yang dibawakan ternyata cukup berat, tapi dikemas dengan ringan: tentang takdir.
Takdir yang Pasti: Takdir Mubram
“Takdir itu ada dua macam,” kata Ust. Miftah membuka penjelasan.
“Pertama, takdir mubram. Itu adalah takdir yang pasti, tidak bisa diubah oleh usaha manusia.”
Ia lalu mencontohkan hal-hal yang termasuk takdir mubram:
Kelahiran seseorang. Siapa orang tua kita, di mana kita dilahirkan, itu semua sudah ditetapkan Allah. Tidak ada yang bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa.
Jenis kelamin saat lahir. Laki-laki atau perempuan, semua sudah pasti sejak awal.
Kematian. “Setiap makhluk pasti mati,” ujarnya sambil mengutip QS. Ali Imran: 185, kullu nafsin dzaaiqatul maut—setiap jiwa pasti akan merasakan mati.
Terbit dan tenggelamnya matahari. Tiap hari kita menyaksikan, tidak pernah sekalipun manusia mampu menghentikannya.
Hari kiamat. “Itu janji Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak atau menundanya,” tegas beliau.
Semua itu, kata Ust. Miftah, adalah ketetapan yang tidak bisa ditawar.
“Kita hanya bisa menerima dengan sabar dan ridha,” tambahnya.
Takdir yang Bisa Berubah: Takdir Muallaq
Namun, takdir tidak semuanya bersifat mutlak.
"Ada yang disebut takdir muallaq. Artinya, takdir yang bergantung pada ikhtiar, doa, dan amal kita,” jelasnya.
Beliau lalu memberi contoh:
Rezeki. Allah memang sudah menentukan rezeki setiap hamba. Tetapi, dengan usaha dan sedekah, rezeki itu bisa bertambah.
“Seorang pedagang kecil yang rajin berjualan, tidak malas, disertai doa dan sedekah, insyaAllah rezekinya dilapangkan,” katanya.
Umur. Dalam hadis disebutkan, silaturahmi dan sedekah bisa memanjangkan umur.
“Bukan berarti kita bisa menghindari mati. Tetapi umur itu bisa Allah tambahkan dengan sebab amal,” jelas beliau.
Kesuksesan belajar. Allah memberi potensi kepada setiap anak. Tapi keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh usaha dan doa.
“Siswa yang rajin membaca, mengulang pelajaran, ditambah doa orang tua, insyaAllah hasilnya lebih baik dibanding yang malas.”
Kesembuhan dari sakit. Sakit memang ketetapan Allah. Tapi manusia tetap diperintahkan untuk berobat.
"Minum obat, pergi ke dokter, berdoa, itu semua bagian dari ikhtiar. Allah yang menyembuhkan, tetapi manusia wajib berusaha.”
Ust. Miftah menegaskan, “Inilah ruang di mana doa kita bekerja. Inilah ladang amal kita. Jangan remehkan doa, jangan berhenti berusaha. Karena Allah membuka pintu perubahan lewat ikhtiar manusia.”
Refleksi: Antara Pasrah dan Usaha
Ceramah sore itu membuat jamaah terdiam sejenak. Ada ibu-ibu yang mengangguk pelan, ada yang menatap lantai sambil merenung.
Sadar atau tidak, sering kali manusia salah menempatkan sikap terhadap takdir. Pada hal-hal yang mubram, ia justru memberontak.
Kemudian bertanya:
“Kenapa saya lahir di keluarga miskin? Kenapa saya tidak dilahirkan lebih cantik atau lebih tampan?” Padahal semua itu adalah takdir pasti yang harus diterima.
Sebaliknya, pada hal-hal yang muallaq, manusia sering menyerah terlalu cepat. “Rezeki segini ya sudah,” begitu katanya, padahal Allah masih membuka pintu usaha yang luas.
Ust. Miftah mengingatkan jamaah dengan ayat Al-Qur’an:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
“Jadi,” katanya menutup, “takdir mubram harus diterima dengan sabar. Takdir muallaq harus dihadapi dengan usaha dan doa. Jangan sampai kita tertukar.”
Waktu semakin dekat ke Magrib. Adzan sebentar lagi akan berkumandang. Pengajian pun ditutup.
Ada hal-hal yang memang tidak bisa diubah—kita harus ikhlas menerimanya. Tapi ada hal-hal lain yang masih bisa diperjuangkan—kita harus sungguh-sungguh berusaha.
Di situlah seni hidup seorang hamba: pasrah sekaligus berikhtiar. (wedangkraton)