FLAYER. Potongan flayer pengajian di Majelis Ma'rifatullah pada Jumat 26 September 2025, pentausiah Ustadz Wahyono.
----------

MAGELANG – Dua pekan terakhir, Majelis Ma’rifatullah, Perum Depkes, Kota Magelang terasa “disesaki surga”. 

Tanggal 12 September 2025, Ustadz Zuhron Arofi membahas Pencari Suaka Surga. Jumat malam, 26 September, giliran Ustadz Wahyono mengisi dengan tema Jalan Menuju Surga.

Ustadz Wahyono, mengenakan jas hitam, memulai ceramah di panggung sekira pukul 20.00 WIB. 

Kata-katanya panjang, humor tersebar di setiap jeda, membuat jamaah tetap fokus. Hampir pukul 21.30 WIB, ceramah baru selesai. 

Wedang Kraton menuliskan inti ceramah: tiga sasaran utama setan—semua disampaikan dengan guyonan, bahasa Jawa, kutipan ayat, dan contoh perilaku Nabi.

Orang Dermawan: Tembakan Pertama Setan

“Jalan ke surga itu tidak selalu lurus. Kadang tersesat. Semua itu… karena setan,” ujar Ustadz Wahyono dengan tatapan menyeluruh.

Beberapa jamaah mengangguk. Ada juga yang fokus menatap arah ustadz.

Setan punya misi: menjauhkan manusia dari surga. Target pertama: orang dermawan. Orang loma (lomo).

“Wong sing lomo. Itu yang pertama,” katanya sambil tersenyum.

Setan tidak suka melihat orang dermawan karena setiap sedekah membuka pintu surga.

Ustadz Wahyono menjelaskan:

“Al-jannatu mustaqatun ila li arba’atin nafar.”

Kalau diterjemahkan, artinya kurang lebih: “Surga itu tersedia bagi orang-orang dermawan.”

Beliau menambahkan:

“Wong sing lomo baidun minannar wa qaribun minal jannah.”

Artinya: Orang yang dermawan dijauhkan dari neraka, didekatkan ke surga.

Nah, setan tentu tidak senang melihat orang seperti ini. Karena setiap kebaikan dan sedekah yang dikeluarkan akan membuka pintu surga.

Ustadz Wahyono bilang:

“Man kaana min ahli shadaqah, du’iya min baabis shadaqah.”

Terjemahannya: Barang siapa termasuk orang yang ahli bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Jadi, ada “pintu khusus” surga bagi orang dermawan.

Di Al-Qur’an banyak ayat yang menekankan ini. Misalnya, Surat Al-Baqarah: alladzina yunfiquna—artinya orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Infak lagi, sedekah lagi. Setiap rupiah yang diberikan dengan niat baik, mendekatkan diri kita ke surga dan menjauhkan dari neraka.

Ustadz Wahyono menegaskan, ini bukan sekadar teori: praktikkan, rasakan sendiri. Orang yang murah hati, suka memberi, dan selalu berbagi, itu sudah dijaga Allah, bahkan setan pun sulit menembus hatinya.


Lebih lanjut Ustadz Wahyono menjelaskan.

Zaman sekarang, mencari orang dermawan sulit. Uang susah, orang mudah pelit. Setan bekerja keras agar orang dermawan menjadi pelit dan keras hati, kados ndoro Qarun

Qarun: nama yang langsung bikin kepala terbayang: orang kaya luar biasa, tapi pelit, keras hati, tidak pernah berbagi. Dalam cerita Al-Qur’an, dia punya harta yang numpuk tinggi, emas, perhiasan, tapi hati dan perbuatannya tertutup dari kebaikan. Ia hidup di zaman Nabi Musa.

“Nek arep loma ra sida loma. Ora sida njuk dadi tekane cetil. Napa enten tiyang sing ajeng loma ra sida? Kathah to? Nek ra percaya takon jejere jenengan.”

Jamaah tertawa ketika Ustadz Wahyono bergurau:

Beberapa jamaah saling menepuk bahu, sebagian menyorot ke arah ustadz, tawa bercampur dengan desahan angin malam. Orang dermawan memang dibukakan pintu surga, setan mencoba menghalangi.

Orang Lemah Lembut: Target Kedua Setan

Target kedua: orang tidak galak, lemah lembut, tidak gampang marah.

“Orang galak jelas bersama setan. Wis ra mang dihalang-halangi. Nesunan iku balane setan, wong galak niku dadi muride setan. Wong galak niku rupane cetho. Kaya jejere jenengan,” guyon Ustadz Wahyono.


Jamaah tertawa. Ada yang mengangguk. Ada yang menatap sebelahnya. "Ndak Iyo?"

Wal Kaadzibiinal Ghaizha. Sampai Nabi katakan: “Jangan marah, bagimu surga.”

Orang lemah lembut dibenci setan. Pasangan yang lemah lembut, baik, tidak cengeng, bisa terbawa ke surga:

“Njenengan duwe bojo kok lemah lembut, apikan, ora cerigis, iku bojo sing kegawa tekan swargo.”

Mencari pasangan seperti itu sulit:

“Ning golek bojo sing ngono kuwi, angele ra memper. Nek golek bojo galak, nganti lagune wis ana ta? Yo wis ben duwe bojo sing galak. Yo wis ben sing suarane senga. Wong lanang duwe bojo galak, swarane sengak, mati gasik. InsyaAllah ra suwi.”

Jamaah tertawa lagi.

Ustadz Wahyono menekankan: adab lebih penting daripada ilmu. Nabi mudah diajak bicara, memperhatikan lawan bicara, menenangkan, dan tidak sombong.

Nabi pun jika ada tamu datang, langsung berdiri menghampiri. Apalagi tamu miskin atau sakit.

“Akhlak Nabi itu Al-Qur’an,” kata Aisyah.

Beberapa jamaah menunduk, sesekali menatap ustadz, angin malam berhembus lembut, aroma teh hangat masih menguar.

Orang Pemaaf dan Suka Berbuat Baik: Target Ketiga Setan

“Orang yang memaafkan, tidak pernah dendam, tidak iri… itu juga digoda setan,” ujar Ustadz Wahyono.

Nabi ketika disakiti tidak membalas. Fisik dihina? Tidak masalah. Agama dihina? Baru marah. Setan menggoda dari segala arah, tapi orang yang suka berbuat baik tetap bisa selamat.

Dalam Al-Qur’an, Surat Al-A’raf ayat 16–17, Allah menceritakan dialog antara Setan dan dirinya sendiri, ketika diberi kesempatan menyesatkan manusia:

Ayat 16:

Setan berkata: “Karena Engkau telah menyesatkan aku, aku akan menyesatkan mereka di muka bumi, dan aku akan mengajak mereka agar saling menipu, saling menimbun harta, dan saling menentang.”

Artinya: Setan bersumpah akan menjerumuskan manusia, membuat mereka lupa tujuan hidup, sibuk dengan harta dan perselisihan.

Ayat 17:

“Dan aku akan menyesatkan mereka, kecuali hamba-Mu yang tulus, yang mengabdikan diri hanya kepada-Mu.”

Artinya: Hanya orang-orang yang ikhlas beribadah dan berhati tulus yang aman dari godaan setan.

Jamaah diam. Beberapa menunduk, ada yang tersenyum pelan. Di luar tenda menambah kesan malam yang syahdu.

Pesan Ustadz Wahyono

Orang dermawan: diserang setan agar menjadi pelit.

Orang lemah lembut: dibenci dan diuji kesabarannya.

Orang pemaaf dan suka berbuat baik: digoda setan, tapi konsistensi hati membawa selamat.

Jamaah pulang dengan kepala penuh pesan, hati ringan. Jalan menuju surga memang tidak mudah. Konsistensi hati, akhlak, dan kesabaran adalah kunci selamat dari godaan setan. (wedangkraton)