FLAYER. Potongan flayer pengajian di Majelis Ma'rifatullah dengan tema Pencari Suaka Surga, pemateri Ustadz M. Zuhron Arofi, M.Pd.I.
----------

MAGELANG – Jamaah Majelis Ma’rifatullah di Perum Depkes Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang duduk rapi. Mereka menunggu. Jumat malam, 12 September 2025. Bakda Isyak.

Yang ditunggu: Ustadz Zuhron Arofi M.Pd.I, penceramah pengajian.

Tema malam itu: Pencari Suaka Surga.

Ceramah berjalan sekira satu jam. Panjang sekali. Tapi tidak membosankan. Banyak hal yang diterangkan. Banyak pula yang membuat jamaah terdiam. Kadang juga ketawa. Tersenyum.

Ustadz Zuhron sebenarnya berniat menjelaskan 14 golongan yang dijanjikan masuk surga. Tapi waktunya terbatas. 

Kalau dijelaskan semua, pengajian bisa sampai larut malam. Dan itu tidak memungkinkan. Jamaah terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu. Ada yang sepuh juga. Yang tentunya ada keterbatasan di malam hari.

Dalam cuaca mendung itu, ia menjelaskan tiga sampai empat golongan. 

Dari yang dijelaskan, Wedang Kraton hanya menulis satu saja: golongan orang yang beriman dan beramal saleh.

Kenapa satu? Kalau semua ditulis, tulisan ini akan terlalu panjang. Maka dipilih yang dijelaskan di point pertama.

Al-Qur’an sebagai Petunjuk

Dalam kesempatan itu, Ustadz Zuhron mengutip Surat Al-Isra ayat 9. Yang artinya:

“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

Ia menjelaskan. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup. Jalan lurus. Memberi kabar gembira kepada orang yang beriman dan beramal saleh.

Kata yang digunakan dalam ayat itu adalah ya'malun. Dalam bahasa Arab, bentuk ini disebut fi’il mudhari’. Artinya perbuatan yang berlangsung terus-menerus. Bukan sekali. Bukan sesaat. Tapi berulang-ulang.

“Amal itu harus kontinu,” kata Ustadz Zuhron.

“Bukan kemarin saja. Tapi hari ini. Besok juga. Terus menerus.”

Iman dan Amal: Dua Sisi Koin

Lalu beliau menyambung dengan ayat lain. Surat Al-Baqarah ayat 25:

“Wabashirilladhina amanu wa’amilus shalihat.”

Artinya jelas. Yang mendapat kabar gembira adalah orang yang beriman dan beramal saleh.


“Urutannya bisa dibolak-balik,” jelas Ustadz Zuhron yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma).

“Beriman dulu, beramal saleh kemudian. Atau sebaliknya. Yang penting dua-duanya ada. Tidak bisa dipisahkan.”

Iman tanpa amal saleh, pincang. Amal saleh tanpa iman, kosong. Keduanya ibarat dua sisi koin. Menyatu. Tidak mungkin dipisahkan.

Amal Besar, Tapi Tidak Bernilai?

Ustadz Zuhron lalu memberi contoh. Tentang orang-orang kaya. Bahkan miliarder. Bahkan Triliunan. Ada yang datang ke Indonesia tahun 2014. Menyumbang ratusan miliar rupiah. Namanya Bill Gates - non muslim.

“Bayangkan,” kata beliau.

“Ada yang menyumbang 400 miliar. Untuk kegiatan sosial. Untuk yayasan. Luar biasa besar. Tapi apakah itu amal saleh? Ya, amal saleh. Tapi apakah diterima? Tidak, jika tidak disertai iman.”

Itulah bedanya. Amal saleh yang sejati harus beriringan dengan iman. Tanpa iman, amal sebesar apapun bisa tidak bernilai di hadapan Allah.


Kunci Suaka Surga

Maka jelaslah. Golongan pertama yang mendapat suaka surga adalah orang yang beriman dan beramal saleh. Tidak bisa dipisahkan. Tidak bisa ditawar.

“Iman dan amal saleh itu kunci,” tegas Ustadz Zuhron yang saat kuliah aktif di dunia kemahasiswaan.

“Kalau salah satu hilang, suaka surga tidak tercapai.”

Ceramah malam itu terasa singkat, meski satu jam. Yang dibahas baru sebagian kecil dari 14 golongan. Namun, pesan utamanya sudah mengena.

Iman itu pondasi. Amal saleh itu bangunan.

Pondasi tanpa bangunan? Kosong. Bangunan tanpa pondasi? Runtuh.

Dan keduanya bukan sekali jadi. Melainkan harus dirawat. Dikerjakan terus.

Karena surga bukan hadiah sekali-sekali. Tapi balasan untuk mereka yang istiqomah. (wedangkraton)