DISIARKAN. Kajian Ustadz Soleh Al Jufri yang disiarkan di TV10 langsung dari Masjid Jami' Assegaf Solo, Selasa 9 September 2025. 
----------

MAGELANG - Pagi itu, kegiatan di rumah masih tenang. TV menyala di pojok ruangan, stasiun TV10. Sedang tayang kajian Ustadz Soleh Al Jufri, langsung dari Masjid Jami' Assegaf Solo. 

Jam 6.30 sampai 7.00 WIB, siaran itu disimak dengan seksama, Selasa 9 September 2025.

“Kalau bisa merawat hati, kita bisa merawat diri kita,” begitu ucap Ustadz Soleh.

Amaliah itu tergantung apa yang masuk ke dalam diri kita. Makanan, pendengaran, penglihatan, dan sentuhan. 

Semua itu tidak sekadar lewat, tapi masuk, diolah, lalu keluar menjadi diri kita. 

Makanan yang baik menimbulkan yang baik. Apa yang dilihat memengaruhi hati. Apa yang disentuh memengaruhi jiwa.

“Kalau mau kerja, cari yang halal. Kalau mau makan, cari yang halal,” tegas beliau lagi. 

Yang masuk menentukan hati. Layar HP atau Al-Qur’an. Kalau kita lihat layar HP, yang sering di media sosial, terkadang ada gambar yang senoloh: tabu. 

Mau pilih yang mengandung maksiat atau yang baik-baik saja. Semua pilihan ada di tangan kita.

BACA JUGA: Profil Wedang Kraton

Setiap maksiat yang masuk meninggalkan titik hitam di hati. Semakin banyak maksiat, titik hitam bertambah. 

Hati adalah pusat komando diri. Kalau gelap, hidup ikut gelap. Lingkungan baik ditambah amal baik → hati baik → hidup terasa ringan: menjalankan ibadah juga ringan.

Tahap pertama dalam tasawuf disebut Tahalli, artinya bersih-bersih hati. 

Caranya sederhana, tapi butuh konsistensi: perbanyak istighfar, taubat, dan minta maaf kepada orang lain jika ada salah. 

Hati ibarat gelas. 

Gelas bersih menerima air bening, maka tetap nampak jernih. Gelas kotor, meski dituangi air jernih, akan nampak keruh: tetap keruh. 

Dengan istighfar itu ibarat mencuci gelas hati. Membersihkan hati.

BACA JUGA: Naik Kelas di Bulan Syawal

Hati yang bersih perlu dihiasi. Tahap ini disebut Mahali. Hiasan hati bukan emas atau permata, tapi amal soleh, ilmu yang bermanfaat, dan sifat mulia. 

Hati bersih lebih mudah menerima kebaikan. Lingkungan baik dan amal baik → hidup terasa ringan: ringan menjalankan ibadah.

Tahap berikutnya adalah Tajalli, saat kebaikan dalam diri mulai terungkap. Dalam tasawuf disebut Ma’rifatullah, atau Ihsan. 

Orang yang Ihsan beribadah seakan-akan melihat Allah. 

Kalau belum mampu, setidaknya merasa selalu diawasi-Nya. Hati ringan, amal mengalir alami, ibadah pun khusyuk.

BACA JUGA: Renungan Kemerdekaan, Silaturahmi, dan Doa

Ustadz Soleh Al Jufri mengutip dari Kiai Nawawi dari Yogyakarta. Dijelaskan dengan bahasa Jawa sederhana:

“Ihsan iku lakon bagus. Kalau sudah melalui Tahalli → Mahali → Tajalli, yang keluar dari diri pasti lakon bagus. Itu tandanya orang berakhlak, tidak dibuat-buat, sudah jadi jati diri. Tepos liru rak kementus. Ati ne ikhlas lan lurus. Pangucape sarwa alus.”

Ikhlas, tujuan lurus, ucapan halus, akhlak baik.

Syariat adalah jalan yang mengantar kita melalui Tahalli, Mahali, hingga Tajalli. 

Hasil akhirnya? Menjadi hamba Allah yang mulia, selamat, dan ringan dalam ibadah. 

Orang yang rutin menjaga hatinya, membersihkan, menghias, lalu membiarkan Allah menyingkap kebaikannya—akan sampai ke tahap itu.

Hati bersih, amal alami, hidup selaras, ibadah khusyuk. (wedangkraton)