TAUSIAH. Ustadz Solihin saat menyampaikan tausiah di Masjid Muhajirin, Ahad malam 21 September 2025.
----------

MAGELANG - Ustadz Solihin rawuh lagi di Masjid Muhajirin. Yang terbaru, Ahad malam 21 September 2025. 

Pakaiannya khas: jas, sarungan, peci hitam. 

Usai salat Isyak plus salat sunahnya, ia duduk didekat tempat pengimaman. Mengisi kajian. 

Acara digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyah (PRA) Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang.

Temanya: Kemuliaan dan Kehinaan Umat Islam.

Setelah prolog sekira 7 menitan, Ustadz Solihin mengibaratkan kemuliaan itu seperti mahkota.

“Orang punya kerajaan, simbolnya mahkota. Kalau mahkota itu jatuh, raja kehilangan kehormatan,” katanya.


Jamaah diam. Menunggu.

Jamaah laki-laki berada di sisi selatan dan utara. Jamaah perempuan di sisi timur. Tepi dalam masjid ditempati jamaah. Nyaris tak ada sela kosong.

Kesempatan itu juga dihadiri Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Magelang Utara.

Snack dan air mineral yang terkemas di kardus kecil pun tak ketinggalan menjadi penghias merahnya karpet masjid.

Sesekali ada jamaah yang menikmati suguhan. Ada yang pilih semar mendem, pastel, cendol keju maupun brownies. Tergantung selera lidah.

Ada juga yang dibawa pulang: Mubadir kalau belum didahar. Ataupun belum habis tersantap.

PENGAJIAN. Jamaah pengajian di Masjid Muhajirin, Ahad malam 21 September 2025.
----------

“Mahkota kita sebagai umat Islam itu Al-Qur’an. Allah kasih mahkota itu khusus untuk umat Rasulullah.”

Tapi, kata beliau, umat akhir zaman justru berebut mahkota lain. 

“Mereka kira itu kemuliaan. Padahal justru kehinaan. Bahkan ada yang berdiri di atas kesengsaraan orang lain.”

Satu bagian tausiah membuat jamaah senyum kecut.

“Qur’an itu seringnya (jangan) cuma dibaca pas ada orang mati. Kalau ada kematian, baru Yasin. Kalau ada orang sekarat, baru Qur’an. Seakan-akan Qur’an itu surat gemateni (buat membunuh).”

Jamaah tertawa kecil. Ada yang mengangguk. Ada yang menoleh ke samping, seakan ingin berkata: iya juga.

Beliau menekankan, Qur’an bukan hanya untuk kematian. 

"Baca surat Al-Baqarah, itu yang bikin setan lari. Jangan cuma Yasin. Semua ayat Qur’an membawa keberkahan.”

Al Qur'an juga jangan hanya dijadikan pajangan saja. Disimpan di almari. Kitab suci ini perlu dibaca: dideres - dibaca rutin. Dihayati isinya.

Lalu masuk ke soal kehinaan.

“Kenapa hidup kita hina? Karena kita hanya mencari dunia,” tegas Ustadz yang juga Ketua Yayasan Kesejahteraan Islam Kota Magelang ini.

Sedikit informasi. Yayasan tersebut menaungi Rumah Sakit Islam (RSI). Kamis 4 September lalu, rumah sakit yang beralamat di Jalan Jeruk No 4A Sanden itu punya direktur baru periode 2025 - 2029. Namanya: dr Pamungkas Hary Suharso, Sp.An-TI. Yang melantik Ustadz Solihin.

Lanjut ke materi kajian kembali. 

Dunia itu rendah. Dunya dari kata adnaa — artinya rendah, di bawah. Kita kejar-kejar dunia, padahal surga itu tinggi. Jannatin ‘aliyah.

“Kalau pedoman hidup kita cuma dunia, hasilnya kehinaan. Tapi kalau pedoman kita Qur’an, insyaAllah hidup mulia. Ish qariman au mut shahidan — hidup mulia atau mati syahid.”

TIMUR. Jamaah ibu-ibu duduk di sisi timur dalam pengajian Ahad malam, 21 September 2025.
----------

Ustadz Solihin lalu mengingatkan hadist tentang al-wahn. Penyakit umat.

“Cinta dunia dan takut mati. Itulah yang bikin umat jadi lemah. Jadi buih di lautan.”

Beliau menambahkan, kalau orang Islam hanya mengejar harta, sama saja seperti Yahudi yang tamak dunia.

“Sekarang kita bisa lihat, Israel itu rakus tanah. Merampas Palestina. Kenapa? Karena cinta dunia. Kalau kita ikut-ikutan, nasibnya ya sama.”

Di layar proyektor, ayat-ayat Qur’an ditampilkan. Hadist Nabi juga. Semua menegaskan satu hal: umat ini hina bukan karena jumlahnya sedikit. Tapi karena hatinya terpaut dunia.

“Fitnah akhir zaman itu sekulerisme,” kata beliau.

"Hidup hanya untuk dunia. Bahkan ibadah pun diniatkan demi dunia. Itu bahaya.”

Beliau menyinggung fitnah Duhaima — fitnah yang menimpa semua umat, hingga manusia terbelah dua: orang beriman tanpa kemunafikan, dan orang munafik tanpa keimanan. Setelah itu, kata beliau, tunggulah Dajjal.

Jamaah terdiam. Hening sesaat.


Lalu ustadz memberi solusi. Lima hal, jelas dan sederhana.

Pertama, jangan tinggalkan Qur’an. “Kalau kita berpaling dari Qur’an, hidup jadi sempit.”

Kedua, tadabburi Qur’an. “Baca, pahami, amalkan. Jangan cuma untuk khataman.”

Ketiga, ikhlaskan amal. Bahkan mencuci pakaian atau menyapu rumah bisa jadi ibadah kalau niatnya lillah.

Keempat, segera beramal. “Jangan tunda, sebelum datang fitnah seperti malam gelap gulita.”

Kelima, waspada sekulerisme. Hidup jangan hanya untuk dunia. Fokus pada akhirat.

Doa pun dipanjatkan. Lirih.

“Semoga Allah membimbing kita dalam kemuliaan, dan menjauhkan kita dari kehinaan.”

Aamiin. Jamaah mengaminkan.

Mereka lalu pulang. Ada yang membawa snack di tangan. Tapi yang lebih penting: mereka membawa renungan di hati.

Bahwa umat Islam sudah diberi mahkota: Al-Qur’an. Mahkota ini jangan sampai kita campakkan. (wedangkraton)